Punya Tommy

2008/05/04 at 2:11 pm

Takut pada yang kelihatan tapi..

in: Life

Seperti biasa, hari ini saya dan orang tua pergi ibadah ke gereja pukul 07.30, tapi kami datang terlambat karena sesuatu hal di rumah. Jumlah pengunjung ibadah kali ini masih seperti biasa, tidak sepi tapi juga tidak terlalu ramai. Saya dan orang tua duduk dalam barisan ke tiga dari belakang, di luar pintu kaca tepatnya.

Semua mengikuti ibadah dengan penuh hikmat, terlebih pada saat mendengarkan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Max Mongkol. Tapi kenyamanan dalam mendengarkan khotbah saya agak terganggu karena suatu hal, yaitu obrolan! Saat khotbah berlansung, ada suara beberapa anak muda yang sibuk membahas sesuatu bahkan sampai tertawa panjang.

Karena di depan saya adalah pintu kaca, saya masih bisa melihat sumber suara tersebut, yaitu tiga orang muda, kelihatannya yang baru saja menjalani Sakramen Sidi beberapa waktu lalu. Saya juga menyadari bahwa seorang bapak juga merasa terganggu dan sedikit menggeser posisi tempat duduknya menjauhi kumpulan pemuda itu. Sempat beberapa kali saya menoleh ke belakang, bahkan menatap salah satu pemuda yang memang berada dalam jangkauan mata saya, untuk memberi tahu mereka bahwa suara mereka sangat terdengar jelas dan dapat menggangu konsentrasi orang lain.

Mungkin satu dari antara mereka segera menyadari tindakan sang bapak dan saya dan berusaha untuk tidak meladeni teman-temannya yang tidak berhenti berbincang-bincang dan sama sekali tidak pernah melirik pendeta yang sedang berkhotbah. Tapi yang lain tetap saja kelihatan tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan meneruskan apa yang mereka lakukan.

Saya jadi semakin tertarik untuk memperhatikan kedua pemuda tadi melalui pintu kaca yang akibatnya, jujur saja, konsentrasi saya agak lari dari khotbah yang sedang disampaikan. Selesai khotbah, seperti biasa, dilanjutkan dengan pembacaan Pengakuan Iman Rasuli (PIR) sambil berdiri. Saat itu perhatian saya belum lepas dari kedua pemuda tersebut. Benar saja, mereka juga masih bisa bercanda dan tertawa. Pada saat diam, mereka tidak mengucapkan PIR! Kelihatan sekali bahwa mereka tidak hafal akan PIR. Tapi kalau mereka memang berniat ibadah, paling tidak mereka harusnya berusaha membuka Kidung Jemaat yang memuat teks PIR.

Saat itulah saya berkesimpulang bahwa kedua pemuda itu memang tidak sepenuh hati menjalani ibadah di gereja. Wah, menyedihkan sekali melihat kenyataan ini. Untuk apa kita datang ke gereja kalau sebagian besar waktu yang ada hanya digunakan untuk berbincang-bincang dengan teman atau rekan yang duduknya dekat dengan kita? Apalagi kalau sampai tidak menggubris orang yang sedang menyampaikan Firman Tuhan!

Di sisi lain, saya berpendapat para pemuda itu masih menempuh pendidikan paling tidak kelas 3(tiga) SMU atau sederajat. Di sekolah maupun kampus, pada saat proses belajar-mengajar, semua berlomba-lomba memperhatikan guru/dosen (pendidik) yang menyampaikan materi pembelajaran. Tidak sedikit dari murid/mahasiswa merasa segan bahkan takut akan gurunya. Kenapa? Ada beberapa pendidik yang tegas, jika ada yang mencoba tidak memperhatikannya dan sibuk dengan hal lain, ia akan marah dan segera menegur si murid/mahasiswa.

Di sekolah/kampus, para murid/mahasiswa bisa berdisiplin, walau mungkin hanya sekedar menghindari hardikan pendidik. Kenapa di gereja tidak diterapkan hal yang sama? Mungkin karena para pendeta jarang menegur orang yang tidak memperhatikannya saat khotbah berlangsung. Tapi tidak pernahkah terlintas di benak kita, bagaimana jadinya yang mengegur kita bukan pendeta, melainkan Tuhan sendiri?

Sering kali saya mengingatkan adik-adik layan teruna (sekolah minggu remaja) saya untuk bisa memperhatikan sebuah khotbah. Kenapa? Jika kita tidak memperhatikan seorang pendidik, mungkin hukuman terberat yang kita terima adalah keluar dari kelas dan melewatkan satu materi yang sangat berguna. Tapi kalau Tuhan yang marah, saya tidak tahu sebesar apa teguran (baca:hukuman) yang bisa kita terima. Yang harus diingat adalah, seperti apapun dan di manapun kita berada, Tuhan selalu menemani dan memperhatikan kita. Apa yang akan terjadi jika kita tidak melakukan yang sebaliknya, apalagi saat kita berada di rumah-Nya?

So, masih takut hanya pada yang terlihat saja?

GBU

Share

 

RSS feed for comments on this post | TrackBack URI

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

  •  
  • ShoutBox

    Last Message 12 hours, 4 minutes ago
    • Tommy : Sabar....
    • Tommy : Sorry for now, hope soon you can register and post shoutings here :cool:
    • Tommy : Registration is temporary not available at the moment..
    • Tommy : 3... Reset Completed!
    • Tommy : 3...
    • Tommy : 2...
    • Tommy : 1....

    You must be a registered user to participate in this chat

  •  
  •  
  •