Pada tahun ke-4, tahun 1999, saya merasa jenuh dengan rutinitas kuliah yang begitu-begitu saja. Mulailah sifat kemanusiaan saya muncul yaitu ‘malas’. Saat itu saya mulai malas-malasan ke kampus dan lebih sering meluangkan waktu bersama teman-teman se-”tongkrongan” dekat rumah. Sampai akhirnya pada semester berikutnya saya juga merasakan bahwa orang tua sedang dalam kesulitan ekonomi yang mendalam yang membuat saya mengambil keputusan untuk cuti selama satu semester untuk meminimalisir pengeluaran.
Saat itulah saya ‘menemukan’ sebuah warnet yang baru dibuka. Hari demi hari saya sering berkunjung ke warnet yang bernama “Faf@net” untuk mengisi waktu luang sambil mencari inspirasi bahan penulisan tahap akhir kuliah saya. Sampai pada suatu saat sang pemilik, Chandra, mengetahui bahwa saya berkuliah komputer, akhirnya dia mengajak saya untuk membantu dirinya dalam menata warnetnya. Puji Tuhan, saya mendapatkan suatu pekerjaan yang bisa menambah pemasukan orang tua walaupun tidak seberapa. Di samping itu saya juga bisa mendapatkan bahan-bahan tulisan dengan mudah dan gratis (terima kasih yah Chan).
Beberapa lama saya bekerja di warnet, saya harus keluar dari sana karena satu dan lain hal. Tapi seminggu setelah saya keluar, suami dari teman sepermainan saya menawarkan untuk bekerja pada perusahaan pengiriman TKW yang baru saja dibukanya. Sama dengan Faf@net, lokasinya sangat dekat dengan rumah saya. Dua kali berturut-turut saya mendapatkan pekerjaan yang tidak membutuhkan transportasi sama sekali.
Setelah menghabiskan cuti selama satu semester, saya melanjutkan kuliah dan langsung memulai membuat tugas akhir. Satu semester saya langsung menyelesaikan tugas akhir dan mengikuti sidang sarjana. Pada [tgl][bln]2001, saya dinyatakan lulus sebagai Sarjana Teknik Komputer dengan nilai pas-pasan. Sebenarnya saya bisa saja meningkatkan nilai dengan mengikuti ujian-ujian mandiri yang diadakan Universitas Gunadarma, tapi apa daya, saya tidak mau membebankan orang tua dengan biaya-biaya tambahan dari ujian-ujian tersebut.
Kelulusan saya sudah sangat membahagiakan kedua orang tua saya. Bisa dilihat dari cara mereka membicarakan kelulusan saya kepada keluarga, tetangga, kepada siapa saja. Tentu saja mereka bangga karena saya sudah bisa menjadi seseorang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dari mereka.
Tapi, tidak! Tidak sebangga saya yang memiliki orang tua yang sangat mengasihi saya. Apapun rela mereka lakukan supaya saya tidak kelaparan dan bisa menyelesaikan pendidikan. Yang membuat saya tidak melupakan jasa mereka adalah mereka rela menerima “hinaan” orang-orang di sekitar kami pinjami uang, kritikan orang-orang yang berkata “kalau memang tidak mampu ya tidak usah menyekolahkan Tommy ke perguruan tinggi”. Tidak sekalipun mereka mengeluh dalam mencari semua kebutuhan keluarga. Satu yang mereka andalkan: Tuhan! Tiap malam orang tua saya tidak pernah absen dalam berdoa bersama. Kadang jika saya tidak kelelahan pada malam hari saya juga diajak berdoa bersama. Saat itu saya masih belum sadar bahwa doa mereka-lah yang sekarang saya yakini, membuat kami sekeluarga bisa melewati ujian-ujian hidup. I love you, Dad, Mom!
Hari Sabtu, [tgl lupa][bln lupa] 2001, saya memperoleh Surat Tanda Lulus Sementara sebagai pengganti Ijasah yang belum selesai dicetak oleh kampus. Empat hari kemudian, hari Rabu, tiba-tiba teman senior di komplek, Mas Samsul bertanya apakah saya masih bekerja pada perusahaan TKW di komplek atau tidak dan menawarkan saya untuk bekerja di perusahaannya yang akan menempatkan saya di perusahaan pertambangan nasional. Saya sangat tertarik dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan menerima tawaran Mas Samsul (terima kasih ya Mas).
Saat itulah saya baru mengenal seperti apa sebenarnya sistem “outsourcing” yang mulai berkembang dalam dunia bisnis saat itu. Sangat tidak menguntungkan (bagi karyawannya termasuk saya) walaupun sistem outsourcing di tempat saya tergolong unik dan cukup aman dari segi kelanggengan pekerjaan.
Singkat cerita, setelah 5 tahun terjun ke dalam dunia pekerjaan yang sebenarnya, saya mendapatkan tawaran kerja lagi, di salah satu perusahaan china yang bergerak di bidang telekomunikasi. Yang menjadi daya tarik perusahaan ini adalah tidak lagi bekerja sebagai tenaga outsourcing. Awalnya dikontrak tapi jika kita bisa menunjukkan bahwa kita “berharga” bagi perusahaan, tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi staff permanen, seperti saya (Puji Tuhan!)
Sungguh perjalanan hidup saya banyak yang tidak sempat saya bagikan secara mendetil, tapi saya bisa mengatakan bahwa hidup saya sungguh sangat indah. Bukan hasil kerja keras saya semata, tapi karena… “SUNGGUH BESAR KASIH ALLAH” kepada saya!!!
Share


Kisah hidup yang mengagumkan…keep writing…you have that talent.
thx yah… (^_^)
kapan nih bisa gantian lihat story nya?
aku ga bisa nulis sebaik kamu
kapan2 aku kisahkan aja ya…
boleh… nanti dibikinin deh tulisannya (kyk wawancara gitu dehh)